Indonesia Relief-USA (IR-USA) and Lembaga Manajemen Insani (LMI) help cow farmers affected by the 2009 Earthquake in West Java

 

(click picture above) 

 

Berdasarkan data pemerintah bahwa gempa bumi berkekuatan 7,3 pada Skala Richter pada tanggal 2 September 2009 yang berpusat di 142 km barat daya Tasikmalaya pada kedalaman 30 km, telah mengguncang sebagian wilayah Jawa Barat. Gempa ini mengakibatkan sedikitnya 64.398 rumah rusak berat dan 141.341 lainnya rusak ringan, 350 penduduk meninggal, puluhan ribu lainya luka berat dan ringan. Selain itu, yang juga rusak berat adalah 2.128 masjid, 1.134 sekolah dan madrasah, 232 kantor pemerintahan, serta 22 pondok pesantren.

 

Banyak di antara korban adalah para petani-peternak yang bermata pencaharian dari bercocok tanam dan memelihara ternak. Khususnya, di kawasan peternakan sapi perah di Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung Di daerah Pangalengan dan Kertasari, para korban bencana alam 80 % sebagai petani-peternak. Di kawasan tersebut, peternak sapi perah seluruhnya tergabung dalam Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS) dengan jumlah peternak 5.200 KK, populasi sapi perah 18.509 ekor dengan produksi susu rata-rata 130 ton/hari yang dilayani oleh 33 unit tempat penampungan susu.

 

Gempa tersebut telah memorak-porandakan infrastruktur Pos Keswan atau Pos Inseminasi Buatan (IB), Milk Treatment (MT), 10 unit bangunan Tempat Penampungan Susu (TPS) dan 10 unit infrastruktur saluran air untuk budi daya sapi perah dalam kondisi rusak berat. Pabrik Susu milik KPBS ditaksir mengalami kerugian Rp 750 juta rusak akibat gempa. Selain itu, sekitar seribuan kandang milik peternak dalam keadaan rusak ringan, sedang, sampai berat (sumber Dinas Peternakan Jawa Barat). Secara psikis, yang tidak ternilai harganya adalah "trauma" yang dialami oleh para peternak dalam menghadapi hidup dan kehidupannya pascagempa bumi tersebut.

 

Kondisi ternak pasca gempa cukup memprihatinkan, karena banyak ternak yang stress, pola pemeliharaan yang dilakukan menjadi tidak maksimal, kualitas dan kuantitas pakan menurun, dan yang utama kondisi kesehatan menurun, sehingga berimbas pada penurunan produktivitas ternak. Bagi masyarakat petani ternak merupakan tabungan dan sumber penghasilan pokok untuk menyokong perekonomiannya. Dengan mempunyai ternak yang sehat, masyarakat setidaknya masih mempunyai harapan untuk memenuhi kebutuhannya, membangun rumah kembali, dapat membiayai anak-anaknya sekolah dan lain sebagainya.

 

Upaya rekonstruksi dan rehabilitasi wilayah pascagempa tersebut, harus dirancang dengan baik dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat ataupun secara psikologi menciptakan iklim yang kondusif bagi kelangsungan hidup masyakarat sebagaimana sebelum terjadinya gempa. Program diupayakan bersifat memberikan daya ungkit bagi perkembangan ekonomi wilayah. Di Kecamatan Pangalengan sebagai pusat pengembangan sapi perah nasional, komoditi peternakan sapi perah harus merupakan prioritas utama bagi upaya rekonstruksi dan rehabilitasi ekonomi wilayah.

 

Apabila hal tersebut tidak segera dilakukan, dikhawatirkan akan terjadi mobilisasi ternak secara besar-besaran. Mobilisasi ini akan terjadi, karena peternak akan menjual sapi-sapinya sebagai "aset hidup" (live stock) untuk memperbaiki rumahnya yang rusak ataupun bagi keperluan ekonomi lainnya. Jika tidak dikendalikan, hanya dalam beberapa bulan ke depan, diduga KPBS akan menurun produksi susunya, sehingga akan memberikan pengaruh terhadap perekonomian wilayah.

 

Sektor peternakan nampaknya masih belum begitu menarik perhatian baik pemerintah, Non Government Organization (NGO) maupun swasta, dan fokus bantuan lebih banyak tertuju pada kondisi manusia dan tempat tinggalnya. Padahal sektor peternakan tak kalah pentingnya terutama bagi pemulihan kondisi ekonomi masyarakat. Dalam pantauan LMI di Pangalengan dan Kertasari, banyak masyarakat yang mengeluhkan kondisi ternaknya yang semakin kurus meski nafsu makan tetap baik. Banyak kandang ternak yang rusak dan terpaksa sapi atau kambing hanya diikat di bawah pohon. Berangkat dari permasalahan ini Lembaga Manajemen Infak (LMI) Yayasan Lingkar Manajemen Insani dan Indonesia Relief-USA mencoba untuk membantu masyarakat bersama dengan instansi, perusahaan, NGO, dan elemen lain yang mempunyai kepedulian terhadap recovery perekonomian masyarakat pasca gempa di wilayah Jawa Barat untuk bekerja sama mensukseskan “Program Recovery Bencana Alam Gempa Jawa Barat 2010, melalui pemulihan dan peningkatan kualitas kesehatan hewan ternak”.

 

TUJUAN
Kegiatan ini bertujuan untuk memulihkan kembali kegiatan perekonomian di daerah Pangalengan dan Kertasari pada khususnya yang kini terpuruk pasca gempa 2 September 2009. Program pemulihan ini difokuskan pada sektor peternakan, khususnya sapi perah dengan membantu masyarakat sebagai petani-ternak berupa penguatan modal sistem kemitraan. Diharapkan dengan program ini mampu membantu merecovery perekonomian masyarakat pasca gempa Jawa Barat melalui sektor peternakan. Kegiatan ini merupakan pilot project yang berkesinambungan dan terus dijalankan dengan melakukan pengembangan-pengembangan di daerah-daerah yang memungkinkan.

MANFAAT
Memulihkan kembali aktivitas ekonomi-peternakan masyarakat sebagai penyokong perekonomian untuk dapat bangkit kembali dari keterpurukan akibat gempa.
 

(Dilarang mengutip tanpa seijin LMI atau IR-USA)

[::LMI::]